Posted by: Indonesian Children | July 26, 2010

Kontroversi IMD Paska Operasi Sectio Caesaria

Kontroversi IMD Paska Operasi Sectio Caesaria

IMD atau Inisiasi Menyusui Dini saat melahirkan saat ini sedang gencar-gencarnya dilakukan berbagai pihak. Termasuk pemberian IMD paska persalinan operasi sectio Caesaria. Pemberian IMD paska persalinan ternyata memberika perbedaan pendapat yang tajam antara orang tua, dokter anak dan dokter kandungan saat dalam ruang operasi.

Dewasa ini kepedulian orangtua dan dokter terhadap pentingnta manfaat ASI demikian besar dan luar biasa. Informasi. Komunikasi dan edukasi diberikan secara menggebu-gebu oleh siapa saja yang peduli. Demikian juga bagi para orang tua terutama bagi ibu yang ingin melaksanakan IMD dan ibu yang ingin melaksanakan ASI eksklusif pada buah hatinya.

Anak adalah buah hati dalam keluarga, dimana setiap keluarga akan mengupayakan yang terbaik agar sang anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sejak dalam kandungan. Salah satu momen yang istimewa adalah pada saat kelahiran, dimana bayi yang begitu dilahirkan langsung dapat menyusu ke ibunya. Proses melahirkan dengan metode itu dinamakan IMD.

Selama proses persalinan tidak ada kontra indikasi atau faktor penyulit dari ibu atau bayi, maka IMD dapat dilaksanakan dalam proses persalinan normal maupun persalinan dengan operasi sectio cesaria.  

IMD adalah suatu proses pemberian ASI atau bayi segera menyusu setelah lahir atau 1 jam pertama dari kelahirannya. Bayi yang setelah dilahirkan, segera ditengkurapkan di atas perut/dada ibu di mana sang bayi akan berupaya untuk mencari puting susu ibunya tanpa bantuan, atau bisa diletakkan di atas puting ibunya. Bila telah mendapatkan puting ibu, bayi akan mencoba untuk menyusu ASI.  Proses ini memerlukan waktu yang cukup lama dan dukungan dari suami atau keluarga. Diharapkan dengan cara ini, bayi dapat segera mengenali ’bau’ dari ibu dan ASI.

IMD saat persalinan normal mungkin tidak masalah tetapi bila saat persalinan section menimbulkan masalah tersendiri. Karena, saat dalam ruang operasi udara ruangan sangat dingin. Kondisi ini juga beresiko menimbulkan keadaan hipotermi. Gangguan hipotermi ini adalah keadaan yang bisa mengganggu fungsi dan sistem tubuh pada bayi termasuk otak.

IMD meski sudah didengungkan para praktisi kesehatan demikian gencar, tentunya hal ini menimbulkan dampak yang dahsyat bagi ibu dan dokter untuk segera melakukannya. Namun, pengalaman ilmiah berbasis bukti (evidance base medicine) masih belum banyak. Rekomendasi WHO ini dilakukan kaena pengalaman klinis di negara sedang berkembang seperti Afrika.

Beberapa manfaat IMD yang diklaim oleh beberapa ahli tetapi masih belum didukung fakta ilmiah. Manfaat IMD itu antara lain adalah mengurangi bayi menangis, sehingga mengurangi stres serta tenaga yang dipakai bayi dan memungkinkan bayi menemukan sendiri payudara ibu dan menyusu ASI.

Kontroversi

Dengan berbagai latar belakang tersebut saat ini menjadi perbedaan dan kontroversi yang sangat besar baik orangtua, dokter anak dan dokter kandungan. Di kelompok pertama adalah kelompok yang menggebu-gebu ingin menyukseskan IMD khususnya paska operasi sectio caesaria. Kelompok ini sangat dipengaruhi oleh promosi yang menggebu-gebu tentang kehebatan IMD.

Kelompok lain adalah sebagian dokter yang masih menyangsikan manfaat IMD karena fakta ilimiah berbasis buktinya masih belum mendukung. Tetapi kelompok ini terlalu kawatir berlebihan dengan efek samping hipotermi saat IMD di ruang operasi.

Sedangkan kelompok terakhir adalah yang fleksibel. Bila berbeda pendapat, kalau dokter kandungannya menentang sebaiknya tidak diberi ASI tetapi bagi orang tua atau dokter kandungannya menginginkan IMD tetap memberikannya.

Dalam keadaan itu ternyata menimbulkan dilema khususnya bagi dokter anak yang harus memutuskan diberi IMD atau tidak paska persalinan sectio caesaria. Dokter anak memasuki ruang perbedaan pendapat antara keinginan orang tua, kemauan dokter kandungan dan sikap dokter anak itu sendiri.

Saat ada dokter anak yang bersikap memberikan IMD ada beberapa dokter kandungan yang menentang karena kawatir efek samping pada bayinya. Bahkan tidak jarang terjadi seorang dokter kandungan dengan nada keras melarang pemberian IMD saat dokter anak memberikan advis IMD paska persalinan operasi sectio caesaria. Sayangnya pertentangan dan perbedaan pendapat itu di depan pasien dan didengar oleh ibu atau orang tua yang saat itu masih dalam kedaan rawan psikologis karena sedang melakukan operasi.

Sebaliknya bila ada dokter anak yang tidak sependapat dengan IMD paska persalinan, tetapi ada juga dokter kandungan yang menggebu-gebu ingin bayinya diberi IMD. Hal ini tidak akan menjadi masalah bila ibu menginginkan IMD paska persalinan, karena tidak ada dokter yang berani menentangnya.

Bagaimana Menyikapinya

Untuk menyikapi masalah dilematis seperti itu sebaiknya institusoi yang berwenang seperti depkes, IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia), POGI (Persatuan Obsetri Ginekologi) dan IDI (Ikatan Dokter Indonesia) secara bersama melakukan kajian ilmiah dan melakukan rekomendasi bersama.

Rekomendasi itu nantinya sebaiknya hanya berisi dua opsi yang harus ditetapkan. Dua opsi itu adalah diberi IMD paska persalinan atau tidak. Bila rekomendasinya harus diberikan IMD paska persalinan maka harus diberikan prosedur tetap yang cermat dalam mencegah hipotermi saat pemmemberian IMD. Bila opsi ke dua yang dipilih yaitu tidak boleh diberikan IMD paska persalinan maka pemberian IMD paska persalinan di luar kamar oiperasi harus segera diupayakan.

Sebelum dilakukan pertemuan itu sebaiknya Rumah sakit memberikan rekomendasi resmi kepoada dokyternya tentang pemberian IMD paska persalinan. Agar pertentangan antara dokter anak dan dokater kandungan yand ada tidak menimbulkan permasalahan baru lagi.

Semua perbedaan pendapat tersebut sebenarnya berasal dari keinginan luhur yang sama, yaitu ingin mencetak geberasi baru di Indonesia yang hebat tanpa harus saling mempertahankan penapatnya tanpa penyeledaian yang bijak.

<a href=dr Widodo Judarwanto SpAIndonesia Breastfeeding Networking Yudhasmara Publisher

Jl Taman Bendungan Asahan 5 Jakarta PusatPhone : (021) 70081995 – 5703646

email : judarwanto@gmail.com

http://korananakindonesia.wordpress.com/

Copyright © 2010, Indonesia Breastfeeding Networking.  Network  Information Education Network. All rights reserved


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories