Posted by: Indonesian Children | June 6, 2010

Donor ASI, Bisakah itu dan bagaimana caranya

Donor ASI, Bisakah itu dan Bagaimana Caranya ?

Pilihan mendonasikan ASI dan juga menerima donor ASI kembali pada pertimbangan orangtua nila bayinya mengalami permasalahan dalam pemberian ASI. Setiap orangtua memiliki pandangan berbeda. Namun, di luar perbedaan pandangan mengenai donor ASI, aksi sosial ini direspons sejumlah institusi. Pendonor lengkap dengan catatan riwayat kesehatan, hingga kaidah penyimpanan ASI yang tepat.

Mendonorkan ASI tak semata berbagi kelebihan produksi susu alami. Bahkan, terdapat perbedaan pandangan ulama mengenai donor ASI. Artinya, diperlukan pertimbangan ketika orangtua memilih mendonorkan ASI atau mencari pendonor ASI.

Keputusan mendonorkan ASI, dilakukan dengan sejumlah prioritas. Untuk mendonorkan ASI, perlu dipertanyakan masalahnya. Artinya bukan karena si ibu tidak mau menyusui. Sebagai pendonor saya juga merasa perlu berkenalan langsung dengan ibu penerima donor ASI. Memiliki kedekatan personal dengan penerima donor penting. Karena, memberikan ASI kepada bayi lain menimbulkan hubungan persaudaraan antara bayi penerima donor dengan keluarga pendonor.

Pada bagian lain, menurut aturan Islam, bayi yang menerima susuan dari satu ibu menjadi mahram dan kelak tidak diperbolehkan menikah. Penting juga untuk memberitahukan ke anak mengenai saudara satu susuan ini. Prioritas yang juga penting  dalam menjalani donor ASI, terkait kondisi bayi penerima donor.  Artinya, donor ASI diberikan kepada bayi yang memang membutuhkan karena kondisi tertentu. Tentu saja, penyimpanan ASI yang baik, dengan penanggalan menjadi penting untuk memastikan ASI layak konsumsi. Lebih penting lagi, mencatat kepada siapa donor ASI diberikan.

Langkah-langkah yang bisa dilakukan donor untuk memberikan ASI-nya:

  • Hubungi Pusat Layanan Laktasi. Ibu donor bisa langsung menghubungi pusat layanan laktasi untuk menjalankan prosedur donor ASI. Cara ini lebih nyaman untuk membangun kedekatan personal, antara ibu donor dan penerima donor.
  • Wawancara. Hal ini bisa dilakukan melalui hubungan telepon untuk memudahkan. Pertanyaan yang diajukan seputar data diri dan riwayat kesehatan. “Donor harus dipastikan steril dari penyakit seperti hepatitis dan HIV.  Kekhawatiran atas penyakit yang terdeteksi, apalagi tidak terdeteksi, menjadi pertimbangan orangtua untuk melakukan donasi ASI. Indonesia belum memiliki fasilitas pasteurirasi yang sebenarnya bisa membantu meminimalkan kontaminasi penyakit.
  • Mengisi formulir
    Kesepakatan donor dan fasilitator diwujudkan dalam pengisian formulir. Data ini memudahkan proses pencatatan data donor dan kepada siapa nantinya ASI akan diberikan. Untuk mengisi formulir, calon donor bisa langsung mengisinya di kantor AIMI atau melalui e-mail.
  • Konsultasi penyimpanan ASI donor
    Harus mengetahui informasi tentang kaidah penyimpanan ASI yang tepat. Artinya, donor akan menyimpan ASI secara pribadi. Dika dibutuhkan, melalui informasi dari AIMI, maka donor akan memberikan ASI-nya. Penanggalan ASI saat penyimpanan menjadi penting. Begitu juga dengan media penyimpanannya.

 

Supported by

INDONESIAN BEASTFEEDING NETWORKING We All Support Breastfeeding

https://supportbreastfeeding.wordpress.com

Clinical and Editor in Chief :

Dr WIDODO JUDARWANTO, pediatrician  Address : Jl Taman Bendungan Asahan 5 Bendungan Hilir Jakarta Pusat  phone : 62(021) 70081995 – 62(021) 5703646, mobile : 0817171764 email : judarwanto@gmail.com

 

 

 

Copyright © 2010, Indonesian Breastfeeding Networking Information Education Network. All rights reserved.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: