Posted by: Indonesian Children | January 26, 2010

HIV dalam ASI Akan Mati oleh Pemanasan

HIV dalam ASI Akan Mati oleh Pemanasan

Sebuah cara sederhana dengan memanaskan secara kilat (flash-heating) air susu ibu (ASI) yang terinfeksi HIV berhasil membunuh virus yang mengambang bebas di ASI, berdasarkan penelitian baru yang dipimpin oleh para peneliti di kampus Berkeley dan Davis di Universitas California, AS. Yang penting, cara ini – memanaskan sebotol beling ASI dalam panci berisi air yang dididihkan di kompor – dapat dilakukan secara mudah di rumah ibu-ibu di rangkaian miskin sumber daya.

Temuan ini, yang akan muncul dalam Journal of the Acquired Immune Deficiency Syndromes edisi 1 Juli 2007, tetapi sekarang sudah tersedia dalam versi internet, memberi harapan bahwa ibu dengan HIV di negara berkembang segera dapat memberi makan bayinya secara lebih aman. “Kami melakukan penelitian ini untuk menolong ibu HIV-positif dan bayinya yang tidak mempunyai pilihan yang aman pengganti menyusui,” dikatakan Kiersten Israel-Ballard, mahasiswa S3 di School of Public Health Universitas California, Berkeley, AS, dan pemimpin penulis penelitian. “HIV dapat ditularkan pada bayi melalui menyusui. Tetapi untuk bayi di negara berkembang dengan angka kematian bayi sudah sangat tinggi akibat diare dan penyakit lain, mereka tidak tahan kehilangan antibodi, unsur anti infeksi lain dan gizi tinggi yang dikandung dalam ASI. Penelitian ini menunjukkan bahwa cara pemanasan yang mudah diterapkan dapat membunuh HIV dalam ASI.”

Penelitian ini dimulai waktu perempuan HIV-positif di Zimbabwe menanyakan bagaimana mereka dapat menjadikan ASI mereka aman untuk bayinya. Israel-Ballard melakukan penelitian di sana yang menunjukkan bahwa perempuan HIV-positif ingin mencoba cara memanaskan secara kilat. WHO menyarankan memanaskan ASI yang terinfeksi HIV, tetapi hanya sedikit penelitian yang dilakukan terhadap cara sederhana agar ibu-ibu di negara berkembang dapat memakainya. Penelitian oleh tim peneliti ini menunjukkan bahwa memanaskan ASI secara kilat dapat membunuh bakteri sementara tetap mempertahankan sebagian besar gizi dan kandungan antimikroba dalam ASI, termasuk juga sebagian besar antibodi penting di dalamnya. “Banyak orang di bidang ini yang ragu apakah cara ini akan berhasil,” dikatakan Barbara Abrams, profesor epidemiologi dan kesehatan ibu dan anak di Berkeley, dan penulis penelitian senior. “Kami ingin memastikan bahwa ada bukti ilmiah bahwa ASI yang dipanaskan secara kilat benar-benar bebas HIV, mengandung gizi dan bermanfaat secara imunologi. Penelitian ini dilakukan sebagai tanggapan terhadap kekhawatiran para ibu di Zimbabwe, dan sebagai ta �mbahan yang menyediakan bukti bahwa penelitian di lapangan sebaiknya dilakukan.”

Pusat yang mengumpulkan, menyimpan dan membagikan ASI (bank ASI) sudah mempasteurisasikan ASI, tetapi cara yang umum dipakai membutuhkan termometer dan penunjuk batasan waktu/timer yang mungkin sulit didapat di rangkaian miskin sumber daya.

Pemanasan secara kilat adalah sejenis pasturisasi yang membawa susu pada suhu yang lebih tinggi dalam waktu yang lebih singkat, cara yang diketahui menahan kandungan anti infeksi dan gizi dalam ASI secara lebih baik dibandingkan cara yang umum dipakai di bank ASI. Lebih lanjut, perlengkapan rendah teknologi yang dipakai dalam penelitian ini adalah mudah dan siap tersedia di komunitas lokal di negara berkembang, dan cara pemanasan ini dapat dilakukan secara mudah dalam rutinitas ibu sehari-hari. Di antara 700.000 anak yang terinfeksi HIV setiap tahun, 40 persen diperkirakan tertular virus dari penyusuan yang diperpanjang. WHO menyarankan bahwa ibu yang HIV-positif menghindari menyusui apabila pilihan aman lainnya tersedia.

Tetapi di negara di mana ibu tidak mampu membeli susu formula bayi, air yang tercemar, atau keadaan sosial-budaya lain mempersulit penggantian ASI, WHO menyarankan menyusui secara eksklusif sampai enam bulan. “Risiko dan manfaat memanaskan ASI yang tercemar HIV adalah berbeda untuk ibu di negara berkembang dibandingkan untuk ibu di AS,” dikatakan Dr. Caroline Chantry, peneliti pengobatan anak dan gizi bayi di Children’s Hospital, UC Davis, AS dan penulis bersama laporan ini. “Di sini kita mempunyai akses terhadap air yang aman dan susu formula, sehingga menjadi kurang masuk akal bagi ibu HIV-positif di negara maju untuk mengambil risiko terkait dengan menyusui bayinya.” Penelitian menunjukkan bahwa apabila bayi disusui secara eksklusif, ada tiga hingga empat persen risiko penularan HIV. Tetapi, apabila bayi diberi susu formula atau makanan lain sebagai tambahan ASI, ada peningkatan yang bermakna dalam risiko penularan HIV yaitu tiga hingga empat kali lipat, kemungkinan karena alergen dan pencermaran dalam makanan padat dan susu formula yang dapat membahayakan dinding epitelia pada saluran pencernaan bayi, yang mempermudah virus untuk menembusnya.

Untuk alasan ini, pedoman WHO menyarankan bahwa setelah enam bulan disusui secara ekslusif, ibu HIV-positif menyapih bayinya segera setelah makanan lain tersedia. Walau demikian, sementara menyapih mungkin mengurangi risiko penularan HIV, penelitian menunjukkan bahwa menyapih meningkatkan risiko kekurangan gizi, diare dan penyakit lain yang dapat mengarah pada kematian bayi. Alat peraga pemanasan susu secara kilat mencakup susu sapi, tabung beling yang dapat dibeli di pasar setempat, dan kompor arang kecil yang biasa dipakai untuk memasak. Pengukur suhu yang dipakai dalam tes tidak diperlukan dalam praktek sehari-hari. “Penghentian penyusuan dini sudah diuji coba dalam berbagai penelitian baru-baru ini, dan hasilnya memberi kesan bahwa menghentikan menyusui lebih dini meningkatkan risiko sakit pada bayi, kegagalan pertumbuhan dan kematian, dan sesungguhnya melampaui risiko penularan HIV melalui menyusui,” dikatakan Abrams. “Hal ini menjadi dilema yang mendesak bagi ibu di negara berkembang. Cara pemanasan susu yang kami temukan menjadi sangat penting pada waktu ibu akan menghentikan menyusui. Kira-kira 300.000 bayi tertular HIV akibat penyusuan setiap tahun. Walau hanya sebagian kecil ibu HIV-positif di negara miskin sumber daya yang berhasil mengeluarkan dan memanaskan ASI-nya secara kilat, cara sederhana, murah dan dapat dipertahankan ini dapat menyelamatkan ribuan bayi terhadap penularan HIV sementara menyediakan manfaat terbanyak dari ASI.” Penelitian ini mencerminkan hasil dari penelitian tahap pertama, diketuai oleh Abrams, yang meneliti dampak dari memanaskan ASI secara kilat. Chantry akan memimpin uji coba di lapangan selanjutnya, yang melibatkan memindahkan cara ini keluar dari lab ke dalam rumah perempuan di Afrika. Para peneliti mencari dukungan dana untuk menilai kemungkinan keberhasilan cara pemanasan secara kilat untuk bayi di komunitas lokal di negara berkembang. “Uji coba klinis diperlukan secara mendesak untuk mendukung bahwa ibu dapat mengeluarkan, memanaskan dan menyimpan ASI-nya secara aman, dan untuk mentes dampak cara ini terhadap penularan HIV yang sesungguhnya,” dikatakan Chantry. “Apa yang penting tentang penelitian ini adalah bahwa perempuan berhak atas informasi pilihan yang tersedia. Adalah mengherankan bagi saya bahwa dalam masyarakat paternalistik kami, orang sering langsung menolak kemungkinan bahwa ibu bersedia mengeluarkan dan memanaskan ASI-nya untuk mencegah bayinya tertular HIV.”

Dari 98 contoh ASI yang dikumpulkan dari 84 perempuan HIV-positif di Durban, Afrika Selatan, hanya 30 yang mempunyai tingkat HIV yang terdeteksi sebelum dipanaskan. Tidak semua ASI yang didapat dari ibu yang HIV-positif mengandung HIV secara alami. ASI yang sudah dikeluarkan dengan tangan dimasukkan ke dalam tabung beling yang dibeli di sana yang disediakan oleh para peneliti. Untuk setiap contoh ASI yang terinfeksi HIV, para peneliti menyisihkan 50 milliliter dalam tabung yang mula-mula dipakai untuk menampungnya dan memakai sisanya sebagai kontrol yang tidak dipanaskan. Gelas yang tidak ditutup ditempatkan dalam panci ukuran sedang berisi 450 mililiter air. Air dan susu dipanaskan bersama di atas kompor. Begitu air mulai mendidih, langsung susu diangkat dan dibiarkan menjadi dingin.

Para peneliti memeriksa suhu ASI setiap 15 detik dan menentukan bahwa ASI yang dipanaskan secara kilat mencapai suhu tertinggi 72,9 derajat Celsius dan biasanya bertahan lebih panas dari 56 derajat Celsius selama lebih dari enam menit. Analisis viral terhadap ASI yang dipanaskan secara kilat dan ASI yang tidak dipanaskan menemukan bahwa HIV sel-bebas sudah dimatikan dalam semua contoh yang sudah dipanaskan.

Para peneliti yang memakai pengukur reverse transcriptase (RT) untuk mentes enzim yang diproduksi oleh HIV yang tahanhidup, karena tes HIV yang biasa tidak membedakan antara virus yang hidup dan mati. Tetapi tes RT tidak dapat mendeteksi HIV dalam sel, tetap data awal memberi kesan bahwa pemanasan secara kilat juga mematikan HIV terkait sel. “Kami berharap cara ini tidak hanya menyediakan ASI yang bebas HIV yang aman dikonsumsi, tetapi bahwa ASI ini juga mempertahankan antibodi dan gizi yang membantu mempertahankan kesehatan bayi,” dikatakan Israel-Ballard. “Ibu-ibu di Afrika memberi tahu kami bahwa mereka akan melakukan apa saja untuk menjaga agar bayinya tetap hidup, dan usaha ini terutama tentang menyediakan pilihan yang dapat dilakukan hanya demi tujuan tersebut.”

INDONESIA BREASTFEEDING NETWORKING
https://supportbreastfeeding.wordpress.com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: