Posted by: Indonesian Children | January 9, 2009

PENANGANAN PEMBERIAN ASI PADA BAYI ALERGI

ASI DAN BAYI PENDERITA ALERGI


 

ILUSTRASI KASUS

  • Seorang ibu muda sering bertanya-tanya kenapa ya….., bayiku kok sering muntah, malam rewel, sering mulet-mulet dan ngeden, pipinya bruntusan dan nafasnya bunyi “grok-grok. Kemudian saat konsultasi ke dokter juga sering dokter mengatakan : “ngga papa bu, nanti keluhan itu juga akan hilang”. Si ibu semakin semakin bingung karena dokter tidak menjelaskan penyebab dan kenapa fenomena tersebut terjadi. Kalau normal kenapa dulu keduanya kakaknya ngga pernah mengalami hal demikian. Tapi saat second opinion dengan dokter lainnya, yah mungkin saja anak ibu alergi sebaiknya ibu jangan makan macam2. Akhirnya ibu tidak mengkonsumsi banyak makanan yang akhirnya berpengaruh pada status gizi ibu.
  • Benarkah ASI berpengaruh terhadap alergi pada bayi? Haruskah ibu menghindari makanan yang bergizi.?

    BACKGROUND

  • Alergi termasuk gangguan yang menjadi permasalahan kesehatan penting pada usia anak. Gangguan ini ternyata dapat menyerang semua organ tanpa terkecuali. Mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan berbagai bahaya dan komplikasi yang mungkin bisa terjadi. Belakangan terungkap bahwa alergi menimbulkan komplikasi yang cukup berbahaya, karena alergi dapat mengganggu semua organ atau sistem tubuh kita termasuk gangguan fungsi otak. Gangguan fungsi otak itulah maka timbul gangguan perkembangan dan perilaku pada anak.

Melihat demikian luas dan banyaknya pengaruh alergi yang mungkin bisa terjadi, maka deteksi dan pencegahan alergi sejak dini sebaiknya dilakukan. Gejala serta faktor resiko alergi dapat dideteksi sejak lahir, bahkan mungkin sejak dalam kandungan. Pencegahan alergi sejak dini akan mengurang resiko terjadi alergi di kemudian hari. Penghindaran makanan ibu yang memberikan ASI kepada bayi penderita alergi ternyata dapat mengurangi gejala alergi pada bayi

PENYEBAB ALERGI MAKANAN PADA BAYI

  • Alergi makanan lebih sering terjadi pada usia bayi atau anak dibandingkan pada usia dewasa. Hal itu terjadi karena belum sempurnanya saluran cerna pada anak. Secara mekanik integritas mukosa usus dan peristaltik merupakan pelindung masuknya alergen ke dalam tubuh. Secara kimiawi asam lambung dan enzim pencernaan menyebabkan denaturasi allergen. Secara imunologik sIgA pada permukaan mukosa dan limfosit pada lamina propia dapat menangkal allergen masuk ke dalam tubuh. Pada usus imatur sistem pertahanan tubuh tersebut masih lemah dan gagal berfungsi sehingga memudahkan alergen, virus dan bakteri masuk ke dalam tubuh. Dengan pertambahan usia, ketidakmatangan saluran cerna tersebut semakin membaik. Biasanya setelah 2 tahun saluran cerna tersebut berangsur membaik. Hal ini juga yang mengakibatkan penderita alergi sering sakit pada usia sebelum 2 tahun. Fenomena tersebut juga menunjukkan bahwa sewaktu bayi atau usia anak mengalami alergi makanan tetapi dalam pertambahan usia
  • Gejala dan tanda karena reaksi alergi pada anak dapat ditimbulkan oleh adanya alergen dari beberapa makanan tertentu yang dikonsumsi bayi. Penyebab alergi di dalam makanan adalah protein, glikoprotein atau polipeptida dengan berat molekul lebih dari 18.000 dalton, tahan panas dan tahan ensim proteolitik. Sebagian besar alergen pada makanan adalah glikoprotein dan berkisar antara 14.000 sampai 40.000 dalton. Molekul-molekul kecil lainnya juga dapat menimbulkan kepekaan (sensitisasi) baik secara langsung atau melalui mekanisme hapten-carrier.

ASI DAN ALERGI

 

  • ASI pasti tidak terbantahkan adalah makanan terbaik bagi bayi. Bahkan banyak penelitian mengungkapkan ASI dapat mengurangi resiko alergi pada bayi. Tetapi dibalik itu ASI kadangkala dapat menjadi petaka pada bayi, bukan karena kualitas ASI tetapi karena diet yang dikonsumsi ibulah penyebabnya.
    ·
  • Diet yang dikonsumsi ibu juga akan berpengaruh bila bayi diberikan ASI. Beberapa penelitian menunjukkan penghindaran makanan penyebab alergi pada ibu ternyata mengurangi gejala colik dan gangguan alergi lain pada bayi.
    ·
  • Yang menjadi masalah diet tapa yang berpengaruh pada bayi hingga sekarang masih dalam perdebatan. Pada dasarnya semua makanan berpotensi penyebab alergi, tetapi ternayata tidak semua makanan penyebab alergi tersebut dapat melalui ASI dengan baik. EPSGHAN dan AAAI merekomendasikan penghindaran kacang-kacangan dan ikan laut dalam pemberian ASI.
    ·
  • Judarwanto W mengadakan observasi terhadap 345 bayi dengan gangguan alergi pada bayi yang diberikan ASI. Ternyata makanan yang paling sering menjadi penyebab gangguan adalah ikan laut seperti cumi, udang, kerang, kacang, keju. Sedangkan coklat, telor, kacang hijau, melón, semangka meskipun relatif kurang dibandingkan kelompok pertama tetapi termasuk sering dikeluhkan. Sedangkan pemberian susu sapi yang dianggap sebagai penyebab makanan ibu yang sering dihindari justru lebih jarang dikeluhkan.
    ·
  • Dari penelitian tersebut penulis akhirnya dapat menggolongkan makanan yang beresiko tinggi, resiko sedang dan relatif aman.
    o Resiko tinggi sebaiknya dihindarkan setelah usia 3-6 bulan
    o sedangkan resiko sedang boleh diokonsumsi tapi jangan tiap hari
    o sedangkan relatif aman dapat dimakan tiap hari
    ·
  • Menyikapi hal tersebut sebaiknya, kita harus sadar bahwa Tuhan menciptakan sesuatu yang dilarang bagi kaum tertentu pasti ada penggantinya, Jadi para ibu yang memberikan ASI pada bayi yang alergi, bahwa setiap makanan yang diduga penyebab alergi harus ada penggantinya yang tidak kalah bagus, misalnya ikan laut jangan dikonsumsi tetapi ikan laut seperti ikan tyuna, salmon, bandeng dan sarden ternayata relatif aman, Kacang-kacangan tidak boleh tetapi ada pengganti kacang kedelai. JADI SEBAIKNYA IBU TIDAK ASAL MENGHINDARI MAKANAN YANG BERGIZI TETAPI HARUS MENGETAHUI MAKANAN PENGGANTI YANG TIDAK KALAH GIZINYA.
    ·
  • Sering ibu memvonis sendiri, dok setelah makan telor anak saya gatal-gatal, ternyata setelah dikupas lebih teliti ternyata saat itu bersamaan makan sambel yang ada terasinya, padahal terasi adalah terbuat dari udang. Atau, dok saya minum suysu sapi anak saya kok bruntusan lagi ternyata saat minum susu sapi juga mengkonsumsi gado-gado atau pecel yang ternayata ada kacang tanahnya. Sedangkan sebelumn ya minum susu sapi aman-aman saja.
  • PENANGANAN ALERGI PADA BAYI
  • Penanganan alergi yang terbaik pada bayi adalah menghindari penyebab alergi tersebut. Pada alergi makanan gejala alergi akan berkurang atau hilang bila makanan sebagai penyebabnya dihindarkan. Hanya saja secara praktis agak rumit untuk mencari penyebab pasti penyebabnya karena pemeriksaan alergi (tes alergi) tidak dapat memastikan penyebab alergi tersebut. Sehingga cara yang dianggap paling murah dan sederhana yang dapat memastikan penyebab alergi adalah dengan cara eliminasi terbuka sederhana. Bila timbul keluhan dicatat penyebab alergi terbut, meskipun alergi terhadap jenis makanan tertentu tidak berlangsung seterusnya.
  • Dengan semakin meningkatnya usia anak alergi makanan tertentu akan menghilang, kecuali makanan kacang tanah dan beberapa ikan laut kadang dapat menetap hingga usia dewasa.
  • Pemberian obat terus menerus bukanlah jalan terbaik dalam penanganan alergi, tetapi yang paling ideal adalah menghindari penyebab yang bisa menimbulkan keluhan alergi tersebut. Obat alergi secara optimal hanya dapat menekan reaksi alergi dalam waktu 12-24 jam. Bila reaksi itu berkurang maka akan timbul gejala lagi dan harus minum obat lagi. Bahkan meskipun sudah minum obat kadang hanya dapat menekan hejala alergi tetapi tidak dapat menghilangkan sama sekali. Beberapa penelitian dan dokter memberi advis untuk minum obat terus hingga alergi berkurang. Padahal kondisi alergi tiap anak berbeda ada yang berkurang setelah usdia 2-7 tahun. Apakah harus minum obat selama itu?
  • Penghindaran penyebab alergi ini harus disertai edukasi yang baik terhadap orang tua atau orang lain di lingkungan anak.
  • Pemberian obat-obatan pencegahan alergi dan obat lainnya adalah bentuk kegagalan dalam mengidentifikasi dan penghindaran penyebab alergi. Obat-obatan simtomatis, anti histamine (AHi dan AH2), ketotifen, kortikosteroid (baik topikal maupun oral), serta inhibitor sintesase prostaglandin hanya dapat mengurangi gejala sementara, tetapi umumnya mempunyai efisiensi rendah dan sudah mulai banyak ditinggalkan.

 

END POINT

  • PEMBERIAN ASI DAPAT MENGURANGI RESIKO ALERGI DI KEMUDIAN HARI
  • PEMBERIAN ASI TERNYATA BISA MENIMBULKAN MASALAH PADA BAYI, BILA DIET DARI IBU DAPAT MELALUI ASI YANG DAPAT MENGGANGGU BAYI PENDERITA ALERGI.
  • MAKANAN PENYEBAB ALERGI DAPAT DIHINDARI DAN TIDAK AKAN MENGURANGI STATUS GIZI IBU BILA MENGETAHUI MAKANAN PENGGANTINYA

    DAFTAR PUSTAKA

    v Tokodi I, Maj C, Gabor S. Cycle vomiting syndrome as a clinical appearance of eosinophilic gastroenteritis. Orv Hetil. 2005 Oct 30;146(44):2265-9. Hungarian..
    v Oldak E. The incidence and clinical manifestation of food allergy in unselected Polish infants: follow-up from birth to one year of age. Rocz Akad Med Bialymst. 1997;42(1):196-204.
    v
    Paajanen L, Korpela R, Tuure T, Honkanen J, Jarvela I, Ilonen J, Knip M, Vaarala O, Kokkonen J..Cow milk is not responsible for most gastrointestinal immune-like syndromes–evidence from a population-based study. Am J Clin Nutr. 2005 Dec;82(6):1327-35.
    v Kim KH, Hwang JH, Park KC.Periauricular eczematization in childhood atopic dermatitis.Pediatr Dermatol. 1996 Jul-Aug;13(4):278-80.
    v
    Stogmann W, Kurz H. Atopic dermatitis and food allergy in infancy and childhood.Wien Med Wochenschr. 1996;146(15):411-4. Review. German.
    v Bock SA: Evaluation of IgE-mediated food hypersensitivities. J Pediatr Gastroenterol Nutr 2000; 30 Suppl: S20-7.
    v Carroccio A, Montalto G, Custro N, et al: Evidence of very delayed clinical reactions to cow’s milk in cow’s milk-intolerant patients. Allergy 2000 Jun; 55(6): 574-9..
    v Dupont C, Heyman M: Food protein-induced enterocolitis syndrome: laboratory perspectives. J Pediatr Gastroenterol Nutr 2000; 30 Suppl: S50-7.
    v Hill DJ, Heine RG, Cameron DJ: The natural history of intolerance to soy and extensively hydrolyzed formula in infants with multiple food protein intolerance. J Pediatr 1999 Jul; 135(1): 118-21.
    v Host A, Halken S, Jacobsen HP, et al: Clinical course of cow’s milk protein allergy/intolerance and atopic diseases in childhood. Pediatr Allergy Immunol 2002; 13 Suppl 15: 23-8.
    v Kelly KJ: Eosinophilic gastroenteritis. J Pediatr Gastroenterol Nutr 2000; 30 Suppl: S28-35.
    v Kelly KJ, Lazenby AJ, Rowe PC: Eosinophilic esophagitis attributed to gastroesophageal reflux: improvement with an amino acid-based formula. Gastroenterology 1995 Nov; 109(5): 1503-12.
    v Lake AM: Food-induced eosinophilic proctocolitis. J Pediatr Gastroenterol Nutr 2000; 30 Suppl: S58-60.
    v Lake AM, Whitington PF, Hamilton SR: Dietary protein-induced colitis in breast-fed infants. J Pediatr 1982 Dec; 101(6): 906-10.
    v Lindberg T: Infantile colic: aetiology and prognosis. Acta Paediatr 2000 Jan; 89(1): 1-2.
    v Novembre E, Vierucci A: Milk allergy/intolerance and atopic dermatitis in infancy and childhood. Allergy 2001; 56 Suppl 67: 105-8.
    v Sampson HA, Anderson JA: Summary and recommendations: Classification of gastrointestinal manifestations due to immunologic reactions to foods in infants and young children. J Pediatr Gastroenterol Nutr 2000; 30 Suppl: S87-94.
    v
    Vandenplas Y, Hauser B, Van den Borre C, Clybouw C, Mahler T, Hachimi-Idrissi S, Deraeve L, Malfroot A, Dab I.. The long-term effect of a partial whey hydrolysate formula on the prophylaxis of atopic disease.Eur J Pediatr. 1995 Jun;154(6):488-94.
    v Overview Allergy Hormone. htpp://www.allergycenter/allergy Hormone.
    v Allergy induced Behaviour Problems in chlidren . htpp://www.allergies/wkm/behaviour.
    v Brain allergic in Children.htpp://www.allergycenter/UCK/allergy.
    v William H., Md Philpott, Dwight K., Phd Kalita, Dwight K. Kalita PhD, Linus Pauling PhD, Linus. Pauling, William H. Philpott MD. Brain Allergies: The Psychonutrient and Magnetic Connections.
    v Ray C, Wunderlich, Susan PPrwscott. Allergy, Brains, and Children Coping. London.2003
    v Hall K. Allergy of the nervous system : a reviewAnn Allergy 1976 Jan;36(1):49-64.
    v Goyal RK, Hirano I. The enteric nervous system. N Engl J Med 1996;334:1106-1115.

 

Supported  by

INDONESIAN BRESTFEEDING NETWORK (IBN)

CHILDREN ALLERGY CLINIC

Yudhasmara Foundation

Office ; JL Taman Bendungan Asahan 5 Jakarta Indonesia 10210

phone : 62(021) 70081995 – 5703646

email : judarwanto@gmail.com,

https://supportbreastfeeding.wordpress.com/

http://childrenallergyclinic.wordpress.com/

 

 

 

Editor in Chief :

Dr WIDODO JUDARWANTO  SpA

email : judarwanto@gmail.com

 

 

Copyright © 2009, Indonesian  Breastfeeding Network  Information Education Network. All rights reserved.

 


Responses

  1. Makasih infonya ya..anakku mika(6,5bln) dan asi eksklusif. Dari usia 0 bulan,saya hindari makanan laut, tapi kemarin saya makan udang dan malamnya mika panas tinggi,apa itu ngaruh ya? Besoknya pas panasnya turun langsung bercak2 merah(kata orang tampek) dan beruntusan..kasian sekali..kapok deh makan udang..pdhl kalo mkan ikan tenggiri, kakap dll ga apa2..tapi pertanyaan saya panasnya anak saya itu apa dipicu alerginya? Terimakasih..

    • Belum tentu dari makanannya, karena infeksi berupa demam, batuk dan pilek juga bisda memicu reaksi alergi kulitnya timbul. Justru kalau ada infeksi gangguan kulitmnya lebih berat dibandingkan karena makanan

  2. Anak saya umur 20 hari,ketika baru lahir ia bersin2 dan pipinya merah2…kata dokter yang menolong persalinan anak saya kena alergi.Disarankan anaknya hanya minum ASI kalaupun minum susu formula menggunakan susu yang mengandung HA.
    Pertanyaan saya : ini sudah 20 hari,tetapi pipi anak saya masih merah2 bahkan di sebagian tubuh yang lain ( bintik2 seperti biang keringat , dipipi ataupun di badan ).
    Apakah anak saya juga alergi susu sapi?
    catatan : belum pernah saya coba beri susu formula yang mengandung susu sapi dan saya tidak menghindari makanan . Terima Kasih


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: